Indonesia
28 November 2025
Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Universitas Muhammadiyah Kendari menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema “Kolaborasi Badan Gizi Nasional dan Perguruan Tinggi dalam Mendukung Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”. Acara ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta para pengelola akademik di lingkungan UM Kendari.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor IV UM Kendari, Ir. Muhammad Dikman Maheng, S.T., M.Sc., yang hadir mewakili Rektor. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung implementasi Program MBG, salah satu program strategis Presiden Prabowo.
“Selain digitalisasi, kami berharap sivitas akademika UM Kendari dapat turut berkontribusi dalam implementasi MBG. Program ini bukan hanya tentang makanan yang disajikan, tetapi tentang bagaimana nutrisi tersebut dapat berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya.
Sebagai narasumber, Prof. Dr. Ir. Sitti Aida Adha Taridala, M.Si., memaparkan secara komprehensif mengenai peran perguruan tinggi dalam mendukung keberlanjutan Program MBG. Beliau menekankan bahwa tujuan besar program ini tidak hanya terkait pemenuhan gizi peserta pendidikan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat, khususnya sektor perikanan dan pertanian sebagai sumber pangan strategis.
Beliau juga menjelaskan bahwa kelompok sasaran Program MBG mencakup peserta pendidikan formal maupun nonformal, termasuk anak-anak yang berada dalam pengasuhan komunitas seperti lapak baca. Meski demikian, pendistribusian MBG harus tetap terorganisir, akuntabel, dan berdasarkan standar operasional yang jelas.
Prof. Sitti Aida turut menyoroti pentingnya pengelolaan sampah dalam implementasi MBG. Badan Gizi Nasional telah bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendukung tata kelola sampah dari SPPG. Menurut beliau, sampah dari kegiatan makan bersama idealnya dikembalikan ke SPPG untuk ditimbang dan dievaluasi, sehingga dapat dilakukan pemantauan dan pengurangan sampah secara sistematis.
Terkait pemberian susu dalam program, beliau menjelaskan bahwa susu yang dibagikan harus mengandung minimal 20% susu segar. Untuk wilayah yang tidak memiliki produksi susu segar, diperbolehkan menggunakan susu UHT putih, bukan susu coklat, agar nilai gizi tetap sesuai standar nasional.
Dalam materinya, Prof. Dr. Ir. Sitti Aida Adha Taridala, M.Si menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beliau memaparkan lima pilar utama yang harus diperkuat kampus, mulai dari riset dan inovasi, penguatan sumber daya manusia, hingga pendampingan masyarakat.
Perguruan tinggi didorong untuk menghasilkan riset yang relevan dengan isu gizi, pangan lokal, hingga keamanan pangan. Selain itu, kampus juga perlu mempersiapkan SDM profesional—termasuk ahli gizi dan manajer operasional—untuk mendukung penyelenggaraan SPPG.
Prof. Aida juga menekankan pentingnya pendampingan dan capacity building bagi pengelola program, yayasan, serta kader masyarakat agar implementasi MBG berjalan terstandar dan berbasis evidence-based practice.
Dalam aspek monitoring, perguruan tinggi diharapkan mampu menyediakan data dan analisis yang akurat untuk memantau kualitas gizi, kebersihan, dan efektivitas distribusi. Lebih jauh, beliau menyoroti pentingnya ekosistem inovasi melalui kolaborasi triple helix antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat untuk memperkuat keberlanjutan program MBG di daerah.
Kuliah umum ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dalam memastikan keberlanjutan Program MBG bagi peningkatan kualitas gizi generasi muda Indonesia.
13/11/2025
20/11/2025
28/11/2025