Kendari, 2 Februari 2026 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI GELAR SHARING SESSION BIOFLOC BERSAMA PAKAR INTERNASIONAL - FPIK
gambar

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI GELAR SHARING SESSION BIOFLOC BERSAMA PAKAR INTERNASIONAL

Akademik

2 Februari 2026

Kendari, 2 Februari 2026 – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Muhammadiyah Kendari (UMKendari) menyelenggarakan Sharing Session bertema “BIOFLOC” pada Senin, 2 Februari 2026, pukul 08.00-09.30 WITA di Ruang Teleconference UMKendari. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber kompeten, yakni Ary Tamtama, S.Pi., M.Pi (Dosen FPIK UMKendari) dan Abdullah Shakib Ateai (Cand. Scient in Environmental Science).


Sharing session ini membahas dua topik utama: “Pengenalan Bioflok, Teknis Pembuatan, dan Peluang Bisnis” yang disampaikan oleh Ary Tamtama, S.Pi., M.Pi, serta “Effect of Common C-Sources on Biofloc and Water Quality” yang dipresentasikan oleh Abdullah Shakib Ateai.


Dalam paparannya, Pak Ary Tamtama menjelaskan konsep bioflok dengan analogi sederhana. “Bioflok ini sama halnya dengan budidaya ayam potong, yaitu pakan ikan yang dibudidaya agar cepat besar,” ujarnya. Beliau mengungkapkan bahwa teknologi bioflok masih tergolong baru di Sulawesi Tenggara, sehingga membuka peluang usaha yang menjanjikan. “Ini bisa menjadi peluang untuk menjadi ahli bioflok dan teknisi profesional di bidang ini,” tambah Pak Ary.

Sementara itu, Abdullah Shakib Ateai, peneliti berkewarganegaraan Afganistan yang berasal dari Denmark dengan latar belakang M.Si Ilmu Lingkungan dan S.Si Geosains bidang Hidrologi, membagikan hasil penelitiannya tentang Biofloc Technology (BFT).

Penelitian eksperimental yang dijalankan Shakib selama 47 hari menunjukkan temuan penting tentang penggunaan sukrosa sebagai sumber karbon dalam sistem bioflok. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai sumber karbon memberikan hasil paling efektif dalam meningkatkan kualitas air,” ungkap Shakib.


Penelitiannya membandingkan perlakuan sukrosa, pati, dan kontrol terhadap kadar amonia serta pembentukan biofloc. Hasil uji kualitas air memperlihatkan bahwa perlakuan sukrosa mampu menekan akumulasi amonia secara lebih stabil dibanding perlakuan lainnya.


Lebih lanjut, uji Imhoff Cone memperlihatkan pembentukan biofloc tertinggi pada perlakuan sukrosa dengan volume mencapai 35 mL/L. “Temuan ini menegaskan potensi sukrosa sebagai sumber karbon optimal dalam pengembangan sistem BFT berkelanjutan,” tegas Shakib.


Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi civitas akademika dan masyarakat umum tentang teknologi bioflok serta peluang pengembangannya di Sulawesi Tenggara, khususnya Kendari.